Kain Penutup Jenasah Yesus

Misteri bangkitnya Yesus dari kubur memang jadi misteri bagi banyak orang yang non Kristiani, tapi bagi orang Kristiani bukan lagi suatu misteri karena itu nyata Yesus sendirilah yang melakukan itu semua. 

Yang perlu diketahui kita sebagai orang Kristiani adalah makna dari apa yang Yesus lakukan itu, itulah yang perlu kita ketahui. 

Ilustrasi, dibantu disiapkan chatgpt

Ketika Yesus dimakamkan, bersama dengan jenasah Yesus disematkan sebuah kain peluh, yang digunakan untuk menutup jenasah Yesus. 

Kain peluh dalam sejarah Yahudi merujuk pada kain kecil semacam sapu tangan, digunakan untuk menyeka keringat di wajah. 

Dalam tradisi Yahudi, kain peluh ini kerap digunakan dalam prosesi penguburan, Dalam tradisi Yahudi kuno, jenazah biasanya dibungkus dengan kain kafan. Bagian wajah atau kepala sering ditutup dengan kain terpisah—itulah yang sering disebut “kain peluh” dalam konteks ini.

Menjadi bagian dari penghormatan terakhir kepada jenasah. Melambangkan pemisahan antara orang hidup dan mati. 


Nah pada kisah kebangkitan Kristus, kain peluh ini disinggung. Bahwa ditemukan bahwa ketika makam Yesus kosong, kain peluh itu terlipat rapih (baca: tergulung). Hal ini tertulis dalam Alkitab. 
Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. (Yohanes 20: 6 - 7) 

Muncul pertanyaan kenapa kondisi kain peluh itu 'sudah tergulung', apakah jika kamu terbangun dari 'tidur', misalkan kamu itu mati suri, lalu terbangun, apakah kamu sempat² nya untuk merapihkan kain yang menutup tubuhmu? 

Bahkan ketika kamu bangun tidur saja, hal itu kerap sulit dilakukan walaupun setelahnya ada juga yang rajin merapihkan tempat tidurnya sebelum beraktivitas. 

Apakah itu tanda Yesus menyukai kerapihan? 

Sebenarnya hal ini menunjukan bahwa peristiwa kebangkitan bukan suatu kejadian yang terjadi secara random, tapi suatu hal yang teratur dan disengajakan. 

Dalam tradisi masyarakat Ibrani / Yahudi kuno, kain serbet dalam keluarga, meletakkan serbet bisa punya nilai etika, kesopanan, dan simbol kebiasaan makan. Ini menjadi suatu tanda dan memberikan makna tertentu. 

Dimana apabila kain serbet itu dikondisikan tidak terlipat rapih, itu menandakan bahwa 'sudah selesai'. Jika kain tersebut dilipat rapih itu menjadi tanda bahwa seseorang akan kembali. Sebagai simbol bahwa 'aku belum selesai, aku akan kembali.'

Hal ini sesuai dengan janji-Nya bahwa Dia akan kembali. Sesuai dengan apa yang tertulis di Alkitab.
"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakan kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." (Yohanes 14: 1 - 4)


Bagi orang Kristen pasti memahami bagaimana bahasa Yesus ketika mengajar, Yesus sering mengajar dengan perumpamaan dan simbol² yang ketika Dia mengatakannya kita tidak memahami-Nya ketika itu, tapi jika kita memahami lebih dalam kita akan ditunjukan apa yang Dia maksudkan. 

Begitu juga soal kain peluh yang terlipat ini menunjukan bahwa Dia akan kembali seperti apa yang telah dikatakan-Nya, itu janji-Nya. 

Percayalah kalian akan janji-Nya? 

Segitu saja share kali ini, masih momen Paskah, jadi kita bisa berefleksi, belajar memahami apa pesan Tuhan pada kita. Hal yang sama akan kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dimana jawaban dari pertanyaan kita pada-Nya pasti terjawab jika kita mau peka dan memahami apa maksud Tuhan dalam hidup kita. 

Berkah dalem, Tuhan memberkati kita semua. -cpr

#onedayonepost
#refleksi
#renungan
#umum
#kainpeluh

Posting Komentar

0 Komentar