Tahukah Kamu! Liturgi Ekaristi Dilakukan Jauh Sebelum Alkitab Dibukukan

Sering kali dewasa ini sesama Kristen tapi saling menyerang satu sama lain hanya karena berbeda cara mengekspresikan penyembahan pada Tuhan. Padahal dulunya Yesus yang sama mengajarkan prinsip dasar cinta kasih, tetapi kini sesama murid-Nya saling mencerca satu sama lain. 

Ibarat saudara sekandung saling gontok-gontokan satu sama lain, yang bungsu merasa diri benar karena melakukan perbaikan atas kesalahan kakaknya, kakaknya merasa lebih tahu karena dia lebih dulu ada sebelum adiknya itu ada. Begitu saja terus, tidak ada yang mau mengakui porsinya masing². 

Ilustrasi, infografis perjalanan Kitab Suci dan Ekaristi, gambar disiapkan chatgpt

Saya dulu adalah pemeluk Katolik, kini bergeser menjadi Kristen Protestan, tapi saya tidak merasakan 'pindah' karena saya merasakan masih satu tubuh Kristus. 

Hal yang saya akui berbeda adalah caranya saja, tapi secara sadar saya menyadari prinsip sejarah dicetak secara time line dari awal ke akhir, bukan sebaliknya atau asal comot, disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.

Sehingga saya tidak merasa berbeda jauh ketika dulu sebagai Katolik dan sekarang Kristen aliran Pentakosta, justru saya semakin kaya saat ini sebagai seorang Kristiani, saya punya perspektif sebagai seorang Kristen jauh lebih luas, saya kuat di iman akan kesejarahan Kristen dan lebih memahami Kekristenan dari perspektif tafsir kitab suci. 


Saya ingin membahas hal ini, hal yang sering jadi perdebatan diantara sesama Kristiani. Hal ini harus disadari semua pihak baik si sulung dan si bungsu dalam satu iman, dan semua harus menerima itu, walaupun dasar iman yang kamu pegang berbeda, tapi sejarah itu gak bisa bohong dan kamu harus tahu dan sadar itu! 

Tahukah, bahwa sebelum Alkitab yang kita pegang saat ini menjadi buku, jadi sebuah aplikasi di smartphone kamu, menjadi kutipan perikop yang kamu share dan bagikan setiap hari! Liturgi Ekaristi itu sudah berjalan dan dilakukan oleh jemaat Kristen perdana! Tahu tidak? 

Kalau tidak tahu, ini saya beri tahu! Supaya orang Kristiani harus paham dan belajar sejarah dan menyadari sejarah itu ditulis di awal ke akhir, bukan sebaliknya. 


Jadi Alkitab orang Kristen itu diyakini secara nyata bukan ujug² sebuah buku yang jatuh dari langit seperti kitab suci saudara 'bungsu' kita. (Yang katanya itu wahyu dari langit padahal itu hanya saduran, rekaan dan comotan kisah² dongeng dari kitab² non kanon milik keyakinan agama lain) 

Tapi merupakan sebuah buku yang disusun sedemikian rupa dari kumpulan kitab² kanon tentang kesaksian karya penyelamatan Allah di dunia dalam diri Yesus Kristus, ini tergambar dalam kitab-kitab yang dikatakan sebagai 'Perjanjian Baru'. Yang kemudian digabungkan dengan kitab-kitab lainnya sebelum masa Yesus, yang kita kenal sebagai 'Perjanjian Lama', dimana di dalamnya juga merupakan kitab-kitab yang digunakan oleh orang² Yahudi, karena Kekeristenan berakar dari tradisi Yahudi, toh Yesus pun adalah seorang yang lahir dari keturunan Yahudi secara tak langsung karena lahir melalui kandungan Bunda Maria. 

Alkitab Kristen, yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, disusun dan difinalisasi menjadi satu kitab suci utuh (kanon) terutama pada akhir abad ke-4 Masehi, sekitar tahun 367-400 M. 

Bisa dibaca kan, itu tahun berapa? 

367 - 400 M! Itu tahun dimana reformasi gereja belum lahir, itu dimana waktu seorang Martin Luther belum menawarkan perubahan dalam tubuh gereja! Paham! Masih butuh ratusan tahun sampai Martin Luther lahir? 

Meski begitu, bukan berarti langsung terbentuk begitu saja, tidak demikian. Namun melalui proses yang panjang. 

Mulai dari para murid yang mengabarkan kabar suka cita melalui tulisan² mereka yang dicatat, pengalaman kesaksian iman mereka selama ini, untuk mengabarkan ke seluruh dunia bahwa Yesus Kristus ada. 

Proses ini mulai berjalan pada awal ± tahun 50 M. Para murid mulai menuliskan kesaksian mereka dalam tugas perutusan mereka. 

Tulisan² itu kemudian disalin, disebarkan kembali ke jemaat² perdana ketika itu, dibacakan dalam ibadah. Di sini jelaskan, Alkitab seperti buku yang 'dibanggakan' oleh kelompok tertentu sekarang ini belum ada tapi isinya sudah dibacakan dan diperdengarkan dalam ibadah kala itu. 

Baru mulai abad ke-4, mulai ditetapkan kanon dari kitab-kitab yang digunakan oleh jemaat kala itu menjadi kanon kitab yang kita kenal saat ini. 

Ingat! Itu terjadi bukan pada jaman Martin Luther ketika reformasi gereja terjadi, tidak, bahkan belum ada sama sekali sejarah itu terjadi, karena belum waktunya. Pada saat itu gereja itu masih embrio yang tengah tumbuh. 

Sebelum Alkitab lahir, tradisi Kekristenan, ibadah² Kekristenan itu sudah ada lebih dulu, bukan setelah ada Alkitab baru ada ibadah, bukan setelah ada Alkitab ajaran² Kristen disebarkan. Bukan setelah ada Alkitab ada penyampaian firman dll. 

Sebelum Alkitab ada semuanya itu sudah berjalan sebagaimana mestinya, sehingga terlalu berlebihan jika ada yang terlalu "book oriented". Jadi kita kembalikan dulu ke sejarahnya, supaya memahami dengan baik. 

Yesus wafat itu kapan? Nah sejak Yesus naik ke surga Kekristenan sudah mulai berkembang, kabar sukacita sudah dikabarkan jauh sebelum Reformasi gereja terjadi, firman Allah sudah lebih dulu disebarkan tanpa menunggu sebuah buku yang kita kenal sekarang sebagai Alkitab. Semuanya sudah disebarkan jauh² dari kamu generasi sekarang memahami firman dari sebuah buku yang dinamai Alkitab. 

Maksud tendensi saya di sini adalah bahwa firman Allah itu sudah nyata dalam Kristus Yesus, disebarkan kembali oleh murid-murid-Nya melalui cara tulisan² yang mana tulisan² itu jadi sebuah manuskrip yang dikumpulkan, tidak sembarang mengumpulkan, mencomot, menyadur dll., lalu barulah menjadi sebuah buku yang kita kenal dengan sebutan Alkitab.

Jadi sudah selayaknya kita memahami proses itu, tidak ujug² kita justru terbalik menganggap bahwa Alkitab ada lebih dulu daripada firman² dari kesaksian yang dituliskan oleh para murid-Nya. 

Jemaat perdana sudah lebih dulu pandai memahami dan melakukan penyembahan pada Allah, jauh sebelum Alkitab itu menjadi sebuah buku baku. Melalui liturgi Ekaristi, melalui doa² syafaat, melalui doa puja-puji dan lain sebagainya. 

Jadi stop sudah berdebat soal Alkitab yang utama, ini yang utama atau apa yang utama. Yang paling utama adalah firman yang telah menjadi manusia, hidup, sengsara, wafat dan bangkit, Dialah Yesus Kristus yang utama. Sehingga berhentilah mengutamakan hal yang tidak perlu dibesar-besarkan untuk diutamakan, justru pusatnya ke Kabar Sukacita itu sendiri, bukan kepada buku (baca: Alkitab) meskipun di dalamnya berisi firman Allah. 

Tapi begini, jika buku itu hilang atau musnah apa iman mu juga musnah? Tentu tidak kan, jadi sudah berhentilah mengutamakan hal yang demikian, kembali ke dasar intinya saja.

Alkitab membantu kita yang hidup saat ini di generasi yang jauh dari masa Yesus Kristus dulu, untuk mengenal Yesus Kristus lebih dekat. 

Ekaristi atau didenominasi Kristen lain dikenal sebagai Perjamuan Kudus sudah dikenal jauh lebih dulu sebelum Alkitab itu kita kenal saat ini. Yaitu ketika jaman Yesus, Yesus lah yang mengenalkan 'Ekaristi' istilah yang kita kenal saat ini, mungkin dalam jaman Yesus istilahnya adalah 'perjamuan makan'. Ini terjadi tahun 30 - 33 M. 

Tradisi atau kebiasaan ini dilakukan dan diteruskan oleh para murid Yesus, sebagai bentuk mengenangkan akan Dia, sebagai simbol kurban sejati. 

Sejatinya ibadah 'perjamuan' atau yang saat ini dikatakan oleh mayoritas gereja sebagai Ekaristi atau Perjamuan Kudus, polanya tidak berbeda sejak jaman Yesus Kristus hingga saat ini. Sehingga jika orang non Kristen sering menganggap orang Kristen mengada-ada dalam pola ibadahnya itu menandakan ketidaktahuan mereka atau bahkan mereka sok tahu. Karena sejatinya yang terjadi dulu ketika jaman Yesus, jaman Kristen perdana hingga kini polanya sama, tidak berubah. Karena gereja menjaga tradisi itu tetap ada, sebagai bentuk pengenangan akan Dia yang hidup, sengsara, wafat dan bangkit bagi kita semua. 

Segitu saja postingan kali ini, semoga bermanfaat menambah informasi seputar iman Kristen, supaya kita ini bisa punya poin of view lebih luas, tidak terbatas pikiran sempit manusia, hanya terpatok pada buku, tanpa memahami sejarah bagaimana buku itu bisa terbentuknya. Berkah dalem, Tuhan memberkati kita semua. -cpr

#onedayonepost
#katekese
#kitabsuci
#ekaristi
#jemaatperdana

Posting Komentar

0 Komentar