Ada yang menarik dari hari Minggu Prapaskah IV ini. Ini mengingatkan kita ketika hari Minggu Adven ke-4, dikenal dengan Adven Gaudete. Pada minggu ini kita juga merayakan sukacita, jika pada masa prapaskah dikenal dengan Minggu Laetare.
Pesan sukacita apa yang dibagikan pada hari Minggu ini?
Ini juga sekaligus renungan untuk saya pribadi, dan sangat mengena sekali, apa yang tengah saya alami saat ini.
Pada hari Minggu ini kita kembali ditunjukan bahwa Yesus benar² datang bukan untuk menambah hukum² yang bersifat 'keras', tapi membawa benar kabar sukacita Allah, Dia membawa dan mengenalkan Bapa Nya seperti Bapa yang Dia kenal, supaya kita anak² Nya juga mengenal Bapa seperti Dia mengenal Bapa.
Injil pada hari Minggu Prapaskah IV ini diambil dari Injil Lukas 15: 1-3; 11-32 perumpamaan tentang anak yang hilang. Berikut ini perikop injil tersebut, mari kita simak.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas
Ilustrasi, kisah anak yang hilang, "Bapa aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa". Gambar diambil dari Google
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”
Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya, ‘Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku’.
Lalu ayahnya membagi-bagi harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu, lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya harta miliknya, timbullah bencana kelaparan di negeri itu, dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun memberikannya kepadanya.
Lalu ia menyadari keadaannya, katanya, ‘Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan Bapa.’
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya, ‘Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa.’
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, kenakanlah kepadanya; pasanglah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
Tetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang. Ketika pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu, ‘Adikmu telah kembali, dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatkan kembali anak itu dengan selamat.’
Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya, “Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu tambun untuk dia.’
Kata ayahnya kepadanya, ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali’.”
Demikianlah Sabda Tuhan
Terpujilah Kristus
Dari perikop Injil Lukas ini ada pesan tentang kabar sukacita, apa itu dan dimana itu?
Pada kisah² dalam perjanjian lama, dikisahkan soal hubungan saudara, dimana kakak dan adik, dimana si sulung selalu bertindak konyol dan si bungsu yang mendapatkan keadaan yang tidak mengenakan.
Seperti contoh : Kain dan Habel, dimana Kain membunuh Habel hanya perihal persembahan. Lalu kita tahu soal kisah Yusuf yang dijual oleh kakak² nya, lalu kemudian pada akhirnya Yusuf menjadi orang besar di Mesir dan menyelamatkan saudara² nya. Dalam perjanjian lama, dikisahkan bahwa ketika setiap kesalahan akan diganjar.
Tetapi dari perikop Injil Lukas, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang bagaimana seorang Bapa memperlakukan kedua anaknya. Si bungsu yang telah berbuat salah, meninggalkan bapanya, menghambur-hamburkan harta kekayaan bapanya, pada akhirnya diterima kembali, bahkan bapanya menjemput anaknya keluar, diberikan pakaian terbaik, sepatu terbaik serta diberikan cincin, serta dipestakan dengan memotong lembu tambun.
Dilain pihak si sulung yang merasa setiap hari telah mengikuti bapanya, taat pada bapanya, menjalankan semua perintah bapanya, merasa marah, ketika anak bapanya yang lain (baca: adiknya) yang telah berbuat salah justru diterima dan dipestakan begitu meriah, sedangkan dia yang telah selalu bersama bapanya tidak diberikan perayaan pesta serupa. Ini membuat si sulung marah dan tidak mau masuk ke rumah.
Tapi apa yang bapanya lakukan, bapanya keluar menemui si sulung dan menyampaikan,
Dari perumpamaan ini, Yesus menunjukan bahwa Bapa Nya di surga adalah maha baik. Dia tahu anak-anak Nya telah melakukan kesalahan, namun ketika anak Nya bertobat, Bapa tetap menerimanya, bahkan Bapa datang menyambut anaknya itu, bahkan ketika anaknya berharap pengampunan dengan menjadi hamba upahan Bapanya, Bapanya juga memberikan hal terbaik.
Kemudian ketika si sulung yang datang karena marah dan kecewa atas perlakuan yang dianggapnya tidak adil, Bapanya datang dan keluar menemui si sulung dan mengatakan penerimaan Nya.
Ini menunjukan Bapa itu benar² maha baik, maha kasih, maha pemurah. Yesus mengenalkan sosok Bapa Nya, tidak seperti penghukum. Berbeda dengan dogma² lain yang menggambarkan semua hal hanya baik dan buruk, semua harus diganjar. Namun dalam perumpamaan ini, Yesus mengenalkan Bapa Nya, agar kita juga mengenal Bapa tang maha baik, maha kasih dan maha pemurah. Dia akan bersukacita ketika ada anak Nya yang bertobat dan kembali pada Nya.
Inilah sukacitanya, apa yang Yesus sampaikan adalah kabar sukacita yang sesungguhnya, bahwa Bapa itu baik.
Saya tidak begitu baik menyalin kembali apa yang disampaikan Romo Thomas pada homilinya dihari Minggu Prapaskah ke-4 di Paroki St. Theresia, Pandaan pada misa pagi jam 07:00. Tapi inti kasar yang bisa saya tangkap adalah demikian.
Janganlah takut untuk bertobat dan kembali kepada Bapa, karena Bapa yang Yesus kenalkan adalah Bapa yang baik. Yesus datang adalah untuk mengembalikan hubungan antara kita manusia dengan Bapa Nya. Dia mau serupa dengan manusia untuk mengajarkan kita bagaimana memahami cara Allah bekerja terhadap hidup kita.
Allah orang Kristen berbeda dengan Allah yang digambarkan saudara bungsu kita, dan Allah yang dikenal dalam perjanjian lama masih Allah yang jauh, tapi kini Allah telah diperkenalkan ke dalam hidup kita dari jaman ke jaman, hingga pada masa Yesus, Allah dikenalkan lebih dekat dengan kita manusia.
Jadi intinya, bertobatlah, kembalilah kepada Allah, lakukan segala perintah Nya, percayalah sepenuhnya kepada Nya. Gantungkan semua hidup mu pada Nya. Carilah maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.
Ini jadi refleksi dan renungan bagi saya pribadi, dimana beberapa hari lalu saya kembali diingatkan oleh seseorang, teman dekat saya saat ini, untuk melepaskan semua kepahitan. Seketika ketika mendengar Injil ini, dan ketika saya mendengar homili pagi ini, saya seperti dibukakan telinga dan pikiran tentang apa yang disampaikan teman dekat saya.
Saya merasa seperti si sulung dalam kisah perumpamaan Yesus. Dalam waktu yang bersamaan saya juga sama seperti si bungsu yang telah berdosa terhadap surga dan Bapa.
Tapi dari situ pula saya menyadari bahwa Bapa itu baik, saya hanya perlu menyadari kesalahan saya dan bertobat, Bapa selalu menerima dengan tangan terbuka pertobatan anak-anak Nya.
Refleksi iman, marilah berdoa
Terima kasih Yesus, Engkaulah sabda yang menjelma menjadi manusia, Engkau dekat dengan saya, Engkau datang kepada saya, tapi terkadang saya menjauh dan menghindari Mu. Tapi dari sabda Mu ini, saya kembali Engkau tepuk, supaya saya sadar, Engkau hadir dalam diri Dewi, untuk menyadarkan saya atas segala kesalahan saya, atas segala hal yang saya anggap benar, seperti si sulung yang merasa dirinya benar. Ya Yesus, terima kasih atas kasih Mu, setiap langkah saya, sebenarnya Engkau selalu ada mendampingi, mengingatkan, namun saya terlalu angkuh untuk hidup mengandalkan cara saya sendiri. Ya Yesus, berikan hikmat dalam memahami Mu dalam setiap perilaku dan perbuatan saya. Bapa yang mahabaik, sekali lagi saya mengucap syukur dan terima kasih atas kebaikan Mu, Yesus Kristus putera Mu dan teladan ku, doakanlah saya. Amin. -cpr
#onedayonepost
#katekese
#iman
#renungan
#minggulaetare
#anakyanghilang
0 Komentar
Tinggalkanlah jejak dengan berkomentar, maka saya akan berkunjung balik.
Jangan lupa difollow ya.
Terima kasih, berkah dalem. GBU