Film: The Last Supper (2025)

Menjelang Paskah tahun 2025 ini umat Kristiani baik Katolik dan Kristen Protestan disegarkan dan kembali diingatkan tentang karya penyelamatan Yesus dalam hidup kita. Film biblical atau film rohani terbaru ditahun 2025 ini.

Ditahun yang sama juga sebenarnya ada film biblical juga namun konsepnya series namun sebagian seriesnya itu dimana potongan seriesnya itu ditayangkan di layar lebar, di bioskop di Amerika Serikat, The Choosen : Last Supper, Session 5.

Nah kali ini saya gak bahas film yang itu, tapi ini film lainnya, temanya sama, berjudul The Last Supper (2025).

Poster film, gambar diambil dari Google

Film ini dirilis tahun ini, Maret 2025 bertepatan dengan menjelang perayaan Paskah. Diawal perilisannya film ini pasti dicari kebanyakan umat Kristiani, itu pasti. Entah juga ada umat non Kristiani yang ikut kepo nonton.

Film ini menambah jajaran film biblical tentang Yesus yang sudah lebih dulu ada. Film ini mengisahkan kisah karya penyelamatan Yesus hanya sepenggal saja, dari pov rasulnya, terutama rasul Simon Petrus dan rasul Yudas Iskariot.

Ilustrasi, gambar diambil dari Google

Scenenya diambil bukan sejak awal Yesus memilih rasulnya, lalu kemudian berkarya di seluruh Yudea hingga kisah sengsara Nya di salib hingga bangkit. Tapi hanya diambil pada saat Yesus akan menjelang perjamuan terakhir hingga bangkit. Oh ya, pada bagian kisah sengsara pada saat penyaliban tidak sampai didetailkan seperti film  The Passion of The Christ (2004).

Penyiksaan Yesus tetap ditunjukan, yakni ketika Yesus dijemput dari Taman Getsemani, kemudian dibawa ke sidang tua-tua Yahudi, Imam Kayafas. Lalu skip, walaupun ditampilkan sedikit adegan ketika Yesus disalib.

Lalu scene lanjut ketika Yesus bangkit pada hari ketiga dan menampakan diri kepada murid-murid Nya dan menyampaikan perutusan Nya, terutama kepada Simon Petrus, pada scene memorial, ketika Yesus hingga tiga kali menyampaikan hal soal:

"Yesus berkata kepada Simon Petrus: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka?' Petrus berkata: 'Ya, Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi-Mu.' Yesus berkata kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.' 
Yesus berkata kepadanya lagi untuk kedua kalinya: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?' Petrus menjawab: 'Ya, Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi-Mu.' Yesus berkata kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.' 
Yesus berkata kepadanya lagi untuk tiga kalinya: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?' Maka Petrus bersedih hati karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: 'Apakah engkau mengasihi Aku?' Dan ia berkata kepada-Nya: 'Tuhan, Engkau tahu segala hal; engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu.' Yesus berkata kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku'" (Yohanes 21:15-17)

Kembali ke awal, film ini menitikberatkan pada pertobatan dari sudut padang rasul Yesus, Simon Petrus dan Yudas Iskariot

Sejak awal kita diajak melihat pov Yudas Iskariot yang melihat karya penyelamatan Yesus secara duniawi. Yesus yang bisa mengumpulkan banyak orang, dari pov Yudas itu akan sangat membantu mendapatkan pendukung secara politis dan secara finansial.

Kerajaan yang dilihat oleh Yudas adalah kerajaan dunia, sedangkan apa yang Yesus ajarkan selama ini adalah Kerajaan Allah, kerajaan yang bukan dibangun di dunia.

Yudas Iskariot dalam film ini memang digambarkan seperti Yudas pada film Yesus lainnya, karakter Yudas yang kita pahami dalam Injil selama ini hanya kulitnya saja, sebagai rasul yang mengkhianati Yesus.

Tapi difilm ini kita bisa mengenal bagaimana Yudas Iskariot sebagai murid Yesus perdana, yang punya jalan pikiran berbeda dengan murid² Yesus lainnya. Jika sering nonton film Yesus lainnya, pasti akan mendapati kesimpulan yang sama soal Yudas Iskariot. Karena memang gambaran karakter Yudas Iskariot diambil dari tradisi suci, gereja Katolik paham akan hal ini, sehingga dengan film seperti ini kita bisa lebih memahami jalan pikiran rasul² Yesus itu nyata seperti pola pikir kita manusia pada jaman ini.

Sejak awal penerimaan akan pengajaran Yesus tidak bisa diserap dengan baik, pikiran² dunia terus ada dalam pikiran Yudas, sehingga iblis yang terus mendampingi melihat celah untuk mencobai Yudas.

Yudas tidak tanpa iman sebenarnya, Yudas sadar akan karya penyelamatan Yesus, Yudas sadar akan mukjijat Yesus, Yudas sadar Yesus datang bukan dari dunia ini. Namun lagi², Yudas kembali membenturkan logika² dunianya, sehingga ketika iblis datang, iblis memberikan ketakutan² dunia yang pada akhirnya membuat Yudas tega mengkhianati Yesus dengan menjual informasi kepada tetua Yahudi dengan ganjaran 30 keping perak.

Pada akhirnya terjadilah seperti apa yang telah dinubuatkan, Yesus ditangkap dan dibawa ke pengadilan agama Yahudi, hingga nanti sengsara dan wafat di kayu salib.

Yudas yang telah melakukan pengkhianatan pada akhirnya menyesal. Ini gambaran kita manusia yang secara sadar menyesal ketika telah berbuat salah, berbuat dosa. Namun rasa bersalah itu dimainkan oleh iblis agar kita memilih cara yang salah, memilih jalan pintas untuk lepas dari rasa bersalah itu.

Yudas Iskariot pada akhirnya memilih jalan paling mudah sesuai bisikan iblis. Dia mengambil tali tampar lalu mengikatnya dan mengantung dirinya sendiri, Yudas Iskariot mati gantung diri.


Selanjutnya kita mengenal sosok Simon Petrus, difilm ini Yesus sangat menekankan pada Simon Petrus bahwa dialah adalah pemimpin para rasul dan Yesus berharap sekali pada Simon Petrus untuk membimbing saudara² nya.

Kita juga ditunjukan bagaimana karakter Simon Petrus yang keras, dan berani untuk melindungi Yesus dari segala hal. Bahkan dengan yakinnya menyampaikan di depan Yesus bahwa tidak akan mengecewakan Dia. Tetapi pada suatu ketika imannya surut bahkan Simon Petrus secara sadar menyangkal Yesus tiga kali. Ini jadi kekecewaan Simon Petrus sebagai pemimpin para rasul dan juga rasa bersalahnya pada Yesus karena telah menyangkal Nya. Scene ini bisa kita rasakan ketika Petrus terjerembab jatuh dan pada saat yang sama pula dia melihat gurunya tersungkur menerima siksaan.

Pada scene ini hati kita seperti langsung diajak berfleksi bahwa kita ini pun sama seperti Petrus yang kerap menyangkal Yesus. Suatu ketika kita bisa menggebu-gebu menyampaikan kesaksian bahwa Yesus adalah Tuhan, saya adalah anak-anak Nya. Tapi disaat yang berbeda kita bisa dengan mudahnya menyangkal Nya.

Setelahnya, kita kembali diajak memahami, bahwa ketika kita dalam kondisi perasaan kecewa, rasa bersalah, rasa berdosa kepada Allah dan sesama, godaan iblis akan selalu ada mengiringi kita.

Iblis selalu mengajak kita untuk mengakhiri atau menggenapi rasa bersalah, rasa berdosa kita itu dengan jalan pintas, seolah-olah iblis membuat kita merasa tidak berharga bahwa Allah akan mencampakan kita dan tidak menerima kita lagi.

Namun apa pesan Yesus kepada Petrus ada dalam pikirannya, Petrus percaya akan Yesus, yang mempercayakan tugas perutusan pada Nya, dan itulah yang membuatnya berani dan tegas melawan iblis. Menebus kekecewaan, penyesalan dan rasa berdosanya dengan hal yang benar sesuai apa yang Yesus kehendaki. Berbeda dengan apa yang Yudas Iskariot pilih yaitu bunuh diri.

Selain menyajikan dua pov rasul Yesus, film ini menyampaikan pesan soal momen pembasuhan kaki. Inilah dasar iman yang Yesus ajarkan, yakni melayani. Yesus memberikan dasar iman kepada para rasul perdananya, untuk melakukan hal yang sama, yaitu melayani.

Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, "Mengertikah kamu, apa yang telah Kuperbuat kepadamu?" Yesus berkata, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu" (Yohanes 13: 11 - 17).


Film The Last Supper (2025) berdurasi 114 menit ini diambil berdasarkan Alkitab Perjanjian Baru.

Film ini disutradarai oleh Mauro Borrelli dan sekaligus menjadi penulis skenario bersama John Collins. Melibatkan rumah produksi Pinnacle Peak Picture, Canyon Production, Grand Canyon University, Great American/Pure Flix, Wellspring Entertaiment dan Skyrun Pictures.

Secara umum film ini baik memberikan gambaran kisah perjamuan terakhir sebagai karya penyelematan Yesus, meskipun diambil singkat pada bagian itu, secara umum kita bisa memahami bagaimana peristiwa itu terjadi dulu. Sebuah film yang diambil dari catatan sejarah, dari tradisi suci yang benar dan sungguh terjadi dimasa itu.

Sehingga bagi umat Kristiani, berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. Tapi dengan film ini kita dibantu untuk melihat gambaran pada masa itu.

Kalau kalian apakah sudah menonton film ini? Ayo segera nonton sebelum filmnya ditarik dari bioskop, mengingat daya serap penontonnya pasti gak banyak, karena ini film bergenre rohani Kristiani, sehingga penontonnya pasti mayoritas orang Kristen saja. Jika sudah menonton, mungkin bisa sharing di kolom komentar.

Berkah dalem, syalom, Tuhan memberkati kita semua. Amin. -cpr

#onedayonepost
#film
#thelastsupper
#kisahinspiratif
#umum
#publikasi
#perjamuanterakhir
#simonpetrus
#yudasiskariot

Posting Komentar

0 Komentar