Polemik Film Rohani: His Only Son, Anggota Dewan Ternyata Kerdil Wawasan Kebangsaannya

Ingin ketawa sih sewaktu mendengar dan membaca statement dari seorang anggota Dewan terhormat, katanya, saat menganggap kontra terhadap sebuah film yang diangkat dari catatan² kuno keagamaan, alasan kontra yang gak lucu dikemukakan oleh anggota dewan di negara besar yang berlandaskan non teokrasi atau bahkan non sekularisme.

*negara teokrasi adalah negara dengan bentuk pemerintahan di mana prinsip-prinsip ilahi memegang peran utama. Bisa dikatakan negara yang berlandaskan pada satu keyakinan agama.

*negara sekular adalah negara yang memisahkan urusan pemerintahan negara dengan agama.

Jadi objek film yang diperdebatkan adalah sebuah film Rohani yang sebenarnya bukan untuk kalangan Muslim, itu jelas dan tidak mendeskriditkan siapapun, tapi entah kenapa mereka ini ribut sendiri dan mengkontranya, memang agak menggelikan.

Film yang dimaksud adalah His Only Son (2023). Film ini merupakan film bergenre rohani, pertama kali rilis di Amerika Serikat, 30 Maret 2023 yang lalu. Film ini baru masuk Indonesia pada 30 Agustus 2023. Film ini disutradarai oleh David Helling yang juga menyusun naskahnya. Film His Only Son terinspirasi dari kisah Abraham dalam kitab suci umat Kristen. Film ini mengisahkan tentang ujian yang dihadapi oleh Abraham.

Ilustrasi, gambar diambil dari Google

Berawal mulai mencuat ke publik ya oleh karena komentar dari seorang anggota dewan, yang buat saya 'tidak terhormat', karena rugi untuk menghormati anggota dewan yang selama ini juga gak terlalu bermanfaat bagi masyarakat banyak. Sosok anggota dewan ini langsung saja saya sebut namanya, Wakil Ketua Komisi VIII (bidang agama) DPR Dr H Tubagus Haji Ace Hasan Syadzily, M.si.

Jadi si Ace ini berpendapat demikian, "Beredarnya film His Only Son di Indonesia sebaiknya dihentikan atau banned. Narasi film ini penuh dengan kontroversi. Muatan film ini tidak seperti pemahaman selama ini tentang sejarah Nabi Ibrahim AS yang diyakini umat Islam di Indonesia pada umumnya."

Lucunya, ini film diambil dari keyakinan agama lain, tapi dia ini bisa ikut campur, ini kan lucu. Seolah-olah kita ngakal-ngakali kitabnya, padahal agamanya lahir belakangan yang justru merangkum suka² dari apa yang sudah terjadi. Tapi bisa² ybs. mengusik keyakinan orang lain, yang padahal jika hal yang sama dilakukan 'perlakuan terbalik' dia ngamuk². Apakah dia ini sehat?

Selain itu ada lagi anggota dewan juga ikut berpendapat hal yang juga menggelikan, yakni Pimpinan Komisi VIII (bidang agama) DPR Syaifulla Tamliha meminta penayangan film His Only Son dihentikan agar tidak terjadi kegaduhan berunsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Nama² anggota dewan ini sengaja saya berikan cetak tebal untuk selalu mengingatkan bagaimana pola pikir mereka terhadap 'perbedaan' dan bagaimana cara pikir mereka yang terlalu sempit dan gak yakin pada keyakinan ya sendiri, sampai harus memaksa orang lain, takut keyakinan orang lain berubah hanya karena sebuah film yang memang sebenarnya bukan dibuat untuk kalangannya.

Pada akhirnya seiring berjalan ya waktu, media sepertinya tidak lagi mengulik hal ini, karena tahu jelas ini justru akan memperuncing kebodohan yang dilakukan anggota dewan yang kebetulan mengepalai bidang agama, jadi sepertinya media itu dibungkam dan case ini dianggap selesai. Begitulah cara Indonesia menyelesaikan masalah, media dibungkam supaya nampak tak terjadi apa². Padahal inilah realita yang ada di Indonesia.

Untungnya orang Kristen pada umumnya bukan seperti saudara bungsunya yang senang membeda-bedakan, akhirnya ya kita sama² tahu karena memang sudah terbiasa dengan hal seperti ini.

Sebenarnya apa sih yang dikritisi oleh anggota dewan ini?

#1 Isi dari film yang disinggung ini tidak sesuai dengan apa yang ditulis, ups, 'diturunkan' oleh kitab sucinya, sehingga ini dianggap kontroversi dan melenceng dari kitab sucinya sehingga dianggap 'sesat'. Padahal ya jelas orang kitab rujukannya saja beda, masa iya mau dianggap sama dan dianggap kontroversi, jelas ini kan aneh.

Padahal pada kitab sucinya sendiri di sana tidak ditulis, ups, 'diturunkan', atau dijelaskam gamblang bahwa yang dikurbankan itu Ishak atau Ismail, dalam kitab mereka saja mereka bingung siapa orang yang dikorbankan itu. Bahkan dalam tafsiran ulama² mereka saja terjadi perdebatan, ada yang bilang Ismael dan ada yang bilang Ishak. Lucunya ketika mereka saja bingung, mereka bisa menganggap kitab agama lain yang kontroversi.


#2 Dalam film His Only Son ini mengisahkan kisah yang berfokus pada Sarah dan Ishak saja, sedangkan Hajar dan Ismael dikesampingkan. Ini beda dengan apa yang dipahami dalam keyakinan yang kontra.

Pada dasarnya bukan dikesampingkan, karena catatan kitab suci dari keyakinan yang lahir sebelum Islam semua sepakat menyatakan bahwa kasta atau tingkatan Hajar adalah seorang budak atau gundik dari Abraham, itu jelas tertulis dimana pun. Istri sah dari Abraham ya Sarah, itu jelas! Lalu jika kisah utamanya mengabaikan Hajar dan anaknya Ismael, salah ya dimana? Ini kisah yang sudah terjadi jauh sebelum keyakinan belakangan lahir. Intinya adalah pahami sejarah dengan baik.

Tapi jelas film ini dibuat untuk kalangan Kristiani, bukan untuk kalangan Muslim, sehingga jelas film ini tidak untuk memecah belah mereka. Jika keimanan mereka terpecah karena film ini ya salahkan keimanan mereka, sebenarnya yakin apa tidak, jangan salahkan filmnya.

Ini lucu ketika ada seorang Kristen yang percaya dengan film² yang diambil dari kitab dan hadis mereka, itu dianggap wajar karena mendapatkan hidayah. Tapi jika kisah ya tak sengaja terbalik', mereka berteriak kontroversi. "Anda sehat?"


#3 Oleh karena poin 1 dan 2 diatas tadi, mereka yang kuasa memaksa agar film ini dibatasi, bahkan menghentikan film ini beredar.

Tapi oleh karena film ini adalah ranah publik yang gak bisa dicampuri, mereka hanya meminta pemberian informasi disclaimer jika film ini ditonton oleh umat Islam, supaya tidak teracuni kisah yang tidak sesuai dengan kitab sucinya, disclaimer bahwa "film ini tidak sesuai dengan sejarah dan ajaran Islam mengenai keluarga Nabi Ibrahim."

Sampai segitunya kah umatnya harus dijaga agar keyakinan ya tidak berubah, padahal jika emang yakin kenapa takut tersesat ya. Begitu lemahkah Iman mereka?

Berbahagialah umat Kristiani yang masih bisa dilepas bebas menguji imannya di masyarakat tanpa perlu takut terbawa arus. Walaupun banyak juga yang imannya lemah, tapi berbahagialah yang sampai saat ini masih yakin akan Iman Kristiani Nya. Banyak contoh publik figur yang ternyata tidak punya iman sekuat kita yang masih bertahan hingga saat ini. Karena mereka hanya beriman secara legal tapi tidak menjalankan dan mengimani ya dengan Iman sejati.


Begitulah kira² opini saya yang merasa lucu saja sih atas kontra dari film yang diangkat dari keyakinan orang lain lalu diprotes, padahal mereka yang lahir belakangan. Lain cerita jika film ini mengangkat cerita yang melenceng jauh dari apa yang tertulis di Taurat, umat Yahudi apakah akan protes?

Ternyata apa yang diambil difilm ini adalah juga apa yang tertulis dalam sejarah kitab mereka, jadi yang bermasalah kan yang lahir belakangan. Jadi masa iya kita pusing dengan protes mereka. Abaikan saja dan selesai sudah. Toh pada akhirnya case ini seperti menguap begitu saja, seperti jadi sama² tahu bagaimana sih karakter 'adik bungsu'.

Opini ini diterbitkan untuk kalangan pribadi jadi bukan untuk yang beda pemahaman, karena cara pandang kita beda, jadi yang sepaham ya hayu, kalau gak ya skip saja. Karena opini ini berdasarkan realita yang ada. Toh apa yang kamu yakini berikut dengan karta film tentang nabi mu kita gak pernah protes dan kontra, karena kami percaya dengan Iman kami, tak perlu dilarang² atau dibatasi, justru dengan kita menonton film karya kitab orang lain membuat semakin yakin dengan apa yang diimani. Itulah beda cara pandang orang Kristen dengan saudara bungsu kita ini.

Sampai jumpa diopini tentang hal sensitif seperti ini, inginnya tidak mengomentari tapi koq rasanya gemas saja dengan melihat anggota dewan macam ini, apalagi beliau ini mengetuai bidang keagamaan yang seharusnya nasionalistis ditengah keberagaman. Lebih baik jadi ketua ormas daripada jadi ketua komisi di lembaga yang katanya lembaga wakil rakyat yang terhormat. Salam perbedaan untuk kesatuan. -cpr

#onedayonepost
#opini
#hisonlyson
#kristiani
#picik
#maumenangsendiri
#budaya
#umum

Posting Komentar

0 Komentar