Hari Raya Penampakan Tuhan, Hari Raya Epifani

Hari ini gereja semesta merayakan Hari Raya Epifani, dikatakan sebagai hari raya penampakan Tuhan. Setiap tahun kita pasti merayakan hari raya ini dan saya pun pernah memposting tentang tema ini.


Catatan itu dicatat tahun lalu. Bahkan ditahun² sebelumnya saya juga pernah mencatatkan catatan yang serupa pada hari raya ini, tepatnya ditahun 2018 yang lalu. Link tautannya dibawah ini.


Kira² tahun ini akan ada pesan apa ya?

Jadi gereja Katolik di seluruh dunia pada hari raya ini juga merayakan Hari Anak Missioner, tahun ini adalah perayaan ke-180.

Ilustrasi, ketika Majus datang mengunjungi kanak² Yesus.

Soal apa itu perayaan Epifani atau hari penampakan Tuhan bisa dibaca pada postingan sebelum² nya ya. Kali ini ada hal menarik yang bisa jadi keprihatinan kita umat Katolik.

Romo menyampaikan khotbahnya dengan ceritanya, ketika dia tinggal beberapa tahun di Eropa. Di Eropa kita semua tahu gereja berdiri dengan megahnya, dengan arsitektur seni yang memukau, yang membuat semua orang yang memasuki bangunan gereja di sana jadi merinding kagum.

Namun ada hal yang miris. Kehidupan umat di sana nyaris nol aktivitas, misa² rutin harian, mingguan terjadi kadang², umat yang hadir ya itu pun sedikit, hanya diisi orang² tua saja. Bahkan gereja digunakan untuk pernikahan Katolik saja bisa setahun sekali. Ini sangat memprihatinkan.

Saya sendiri sempat bertanya, apakah kehidupan atau aktivitas iman dalam hal kegiatan² gereja seperti yang terjadi di Indonesia juga terjadi di gereja² luar negeri?


Eropa pada masa kolonial, ketika mereka menjadi missionaris, iman Katolik begitu membara menyala, mereka menyebarkan iman Katolik ke Asia, hingga tiba di Indonesia.

Tapi ada yang salah dengan cara itu. Menurut Romo, mereka tidak memikirkan bagaimana soal regenerasi iman. Mereka hanya memikirkan ekspansi, tapi tidak membentuk dan memupuk iman generasi² penerusnya.

Penerusnya adalah anak-anak, ya para orang tua dijaman itu tidak memikirkan menumbuhkan iman anak² mereka soal gereja dan karya Kristus. Mereka hanya berpikir ekspansi menyebarkan keluar, tapi tidak pernah berpikir ke dalam.

Berdasarkan cara yang salah itu, jika tetap diteruskan maka gereja akan habis, gereja akan selesai dalam waktu yang tidak lama.

Itu kenapa, 180 tahun yang lalu gereja mulai menyadari masalah ini dan menggerakkan kita semua untuk meregenerasi anak² kita mengenal imannya sedari dini.

Hari ini kita merayakan karya² misionari anak, dimulai dari hal yang paling kecil, yakni kegiatan bina iman anak (BIA), atau kita lebih akrab dengan istilah 'sekolah minggu'.

Perlu ada peran orang tua di sini untuk mengarahkan. Karena gak mudah melawan rasa malas anak ketika hari Minggu, setelah aktivitas sekolah anak, hari dimana mereka bisa beristirahat harus bangun pagi untuk beraktivitas seperti biasa hanya di tempat berbeda yakni gereja.

Untuk mengenalkan soal iman Kristus, orang tua tentunya harus menyesuaikan dengan usia anak, dan gereja melalui sarana 'sekolah minggu' ini membantu orang tua melakukan peran itu. Meski begitu bukan berarti orang tua lepas tangan begitu saja, peran orang tua tetaplah penting, yakni mau mengalah menunggui, dan meluangkan waktu membiasakan anak ikut bersosialisasi dengan teman sebaya seiman di wadah itu.

Ini suasana perayaan Ekaristi di Paroki St. Theresia, Pandaan pada 8 Januari 2023, misa pertama.

Ekaristi pada hari ini, diisi dengan penyampaian pengalaman² orang tua dan anak dalam berperan serta pada kegiatan ini, kesulitannya dan hasil apa yang diperoleh sejauh ini dalam menumbuhkan iman anak² nya. Begitu juga sharing dari pembina² yang dengan sukarela membantu melaksanakan peran gereja bersama-sama.

Acara serupa juga dilakukan di semua paroki gereja Katolik di seluruh Indonesia, itu pasti. Lalu apakah gereja Katolik di belahan dunia lain juga melakukannya?

Semoga aktivitas iman warga gereja Katolik di Indonesia yang cukup aktif ini juga bisa menular ke umat lain di dunia, karena Indonesia punya kegiatan yang cukup rutin dalam menumbuhkan iman umat² Nya ditengah dinamika kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang agak diskriminatif.

Segitu saja catatan dari saya untuk ngisi postingan dihari raya penampakan Tuhan tahun ini. Supaya jadi pengingat ditahun-tahun berikutnya. -cpr-

Posting Komentar

0 Komentar