Sejarah Kristen di Pulau Madura

Terpikirkan mencari tahu tentang asal-usul atau sejarah Kristen ada di Madura. Mimin tahunya bahwa Madura adalah daerah dengan mayoritas Muslim, sebuah pulau di utara Surabaya, masih masuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Timur.

Lalu adakah umat Kristiani di sana?

Keinginan mencari tahu ini setelah bersosial media di IG, dan berkenalan dengan orang muda Katolik yang 'terdampar' di sana dan di sana ada umat Katolik juga ternyata.

Ilustrasi, wilayah Pulau Madura, masih bagian dari Provinsi Jawa Timur. Gambar diambil dari Google.

Dari situ ingin tahu, gimana sih asal muasal orang Kristen di Pulau Madura itu, sebuah pulau gersang seluas 5.250 km². Mimin coba cari tahu dari searching di Google mengenai hal ini. Mungkin dari kalian yang mampir baca catatan ini dan tahu tentang sejarah Kristen ada di Madura bisa menambahkan di kolom komentar ya.

Wikipedia menginformasikan, bahwa Kristen mulai ada di Madura pada kisaran abad ke-19.

Keyakinan Kristiani dibawa oleh orang Pulau Jawa keturunan Madura yang telah masuk Kristen tahun 1843, dia bernama Tosari.

Melalui Tosari inilah Kristen pada tahun itu coba dikenalkan di Madura. Madura saat itu sudah berisikan mayoritas umat Muslim, dan jelas usaha Tosari ini ditentang atau ditolak oleh penduduk setempat.

Di Jawa Timur, Tosari ini cukup terpandang dan mendapatkan dikenal Kyai Paulus Tosari.

Kala itu ada seorang misionaris utusan dari negeri Belanda yang bernama Pendeta Samuel Harthoorn menetap di daerah Pamekasan tahun 1864. Samuel adalah misionaris Kristen, karena beliau menikah. Pendeta Samuel dan istrinya menetap di Pamekasan, sebuah ibukota kabupaten di Pulau Madura.

Usaha Pendeta Samuel ini adalah mencoba mengenalkan Kristen di tanah Madura. Namun usahanya ini gagal dikarenakan tragedi yang menimpa keluarganya.

Saat itu tahun 1868, Pendeta Samuel sedang pergi keluar kota, rumahnya disatroni segerombolan warga Madura, dimana istrinya dibunuh pada peristiwa ini. Tragedi ini membuat Pendeta Samuel pergi meninggalkan Madura dan tak kembali lagi.

Pada waktu berikutnya lagi, datanglah misionaris Kristen lagi, dia masih muda, bernama Pendeta J. P. Esser. Beliau belajar teologia dan memperdalam bahasa Madura hingga bergelar doktor. Tahun 1880 Pendeta Esser datang ke Madura. Usaha menyebarkan Kristen di sana pun gagal.

Pendeta Esser lalu hengkang ke Jawa Timur, tepatnya ke Bondowoso, lalu pindah ke Sumberpakem. Di sana merupakan daerah di Jawa Timur yang banyak diisi oleh orang Madura. Di sanalah Pendeta Esser berhasil membabtis orang Madura pertama menjadi Kristen, dia bernama Ebing atau Sadin pada 23 Juli 1882. Tanggal itu dikenang sebagai awal mula pembentukan jemaat di Sumberpakem.

Tahun 1886 Pendeta Esser berusaha memudahkan orang Madura mengenal Injil, pada masa itu Pendeta Esser menyelesaikan terjemahan Kitab Perjanjian Baru ke bahasa Madura. Proyek ini terhenti karena Pendeta Esser meninggal diusia muda dan naskah terjemahan raib.

Tahun 1889, ada seorang pendeta muda asal Belanda bernama H. van der Spiegel datang ke Jawa Timur untuk melanjutkan proyek terjemahan ini, dibantu dengan tiga waga lokal Madura.

Tahun 1903 Pendeta Spiegel kembali ke Belanda untuk menerbitkan naskah terjemahan Kitab Perjanjian Baru itu. Namun terkendala ketika ada informasi bahwa Gereja Ebing (umat awal yang diKristenkan) dibakar massa dan misionaris dan keluarganya nyaris jadi korban tewas.

Berita ini sampai ke Belanda menyebabkan proyek penerbitan terjemahan Kitab Perjanjian Baru terkendala dan hanya Kitab Injil Suci karangan Yohanes saja yang berhasil terbit. "Ketab Injil Sotceh see Toles Yohanes".

Tahun 1912 rekan dari Pendeta Spiegel, yaitu Pendeta F. Shelfhorst memilih tinggal di Kangean, Madura. Di sana misinya adalah menyebarkan Kristen di Madura dengan bantuan sosial dan pengobatan. Namun misi ini pun gagal, tidak ada yang tertarik terhadap Kristen sampai akhirnya Pendeta Shelfhorst pensiun ditahun 1935, dan memilih menetap di daerah pegunungan di Jawa Timur dan meninggal karena pendudukan Jepang.

Terjemahan Kitab Suci Injil ini baru rampung setelah mengalami kegagalan selama 130 tahun, baru selesai dan berhasil diterbitkan pada September 1994. Penerjemahnya adalah Ny. Cicilia Jeane d'Arc Hasaniah Waluyo, seorang guru agama Katolik di salah satu SMP di Pamekasan.

Kitab Suci bahasa Madura ini diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan nama Alketab E Dhalem Basa Madura.


Disisi yang lain dengan cerita sejarah di atas. Beberapa peniliti budaya, salah satunya Akhmad Siddiq, merupakan dosen UIN Sunan Ampel, Surabaya merupakan peniliti eksistensi Kristen di Madura, mengatakan agama Kristen masuk Madura dimulai dari daerah Sumenep, dibawa ke Madura dari Probolinggo pada tahun 1923. Daerah kedua yang dimasuki Kristen adalah Pamekasan.

Lanjut beliau ini, penyebarannya melalui gereja dan pendidikan.


Meskipun mendapatkan penolakan atau reaksi negatif dari masyarakat setempat sejak dulu, relasi antar umat Kristen dan umat Islam yang mayoritas di sana didasari relasi antartokoh, komunitas dan intrapersonal.

Dicontohkan pada masanya hubungan antara Islam dan Kristen berjalan baik karena relasi yang baik antara tokoh Islam central dimasa itu bernama Kyai Bakir dan Jhohan, tokoh Kristen pada masa itu.

Pada dasarnya kesimpulan yang bisa diambil, Pulau Madura diisi masyarakat lokal yang sangat kental memahami Islam dengan cara mereka, yakni militan dan keras menanggapi sega pengaruh 'asing' dari luar. Karakter mereka adalah bereaksi ketika sudah menyangkut ego (harga diri), istri dan agama, bahkan mereka rela mati untuk memperjuangkan itu.

Nilai² Kristen sama sekali tidak mereka gubris, karena dianggap 'asing' bagi mereka, yang mereka pahami adalah ajaran Islam yang sudah mendarah daging sejak nenek moyangnya.

Namun begitu nilai² Kristen mampu tumbuh diantara tantangan yang ada, dan itu ada sampai sekarang dimana Kristen jadi komunitas minoritas di sana.

Usaha Kristenisasi nampaknya bukan lagi cara yang tepat saat ini. Seorang Kristen harus menghadirkan Kristus dalam kesehariannya, bukan membawa pengaruh Kristen dari luar, tetapi menunjukan Kristus dari dalam dirinya sendiri, supaya Kristus dikenal secara personal oleh orang setempat oleh serumpunnya sendiri.


Gereja Katolik yang pertama di Madura berdiri tahun 1937, dimana itu adalah tahun pemberkatan gereja itu, bernama Gereja Katolik St. Maria Gunung Karmel (Paroki) di Sumenep, Madura.

Beberapa Gereja Katolik lain di Madura antara lain:
# Gereja Katolik Santa Fatima di Kabupaten Bangkalan
# Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul di Kabupaten Pamekasan (pemekaran dari Paroki St. Maria Gn. Karmel Sumenep)
# Gereja Katolik Santa Maria Asumpta di Kabupaten Sampang
# Gereja Katolik (Stasi Telang) Santa Maria Immacula di Kabupaten Bangkalan

*Gereja Katolik Maria Asumpta Sampang ini tidak diketemukan fisik gereja seperti gereja pada umumnya, nampaknya tersbunyi dalam bangunan pertokoan. Mimin tidak menemukan dokumentasi gereja ini. Seperti yang juga dialami oleh Youtuber Hiron Lalo, yang sudah visit ke daerah Sampang untuk mencari gereja tersebut.

Gereja² Katolik di Pulau Madura ini masuk ke dalam wilayah Keuskupan Malang.



Sekian share informasi tentang sejarah Kristen di Madura. Mimin sementara cari informasi soal Kristen secara umum, karena dulu Belanda membawa misi Kristen Protestan ke Madura. Meski ada misi dari Kristen Katolik di sana, seperti rintisan misionaris Karmelit di Sumenep.

Mungkin dilain kesempatan jika ada informasi soal sejarah Katolik di Madura bisa mimin catatatkan di sini. Semoga bisa menambah wawasan orang muda Katolik dibelahan Indonesia lain.

Sampai jumpa dicatatan mimin SSDK lainnya. Semoga Kristus hadir dalam diri personal kita masing², sehingga orang yang belum mengenal Kristus, mengenal Kristus bukan sekedar paham keyakinan tetapi dari karya nyata dalam hidup, seperti Kristus sendiri dalam karya penyelamatannya sejak lahir hingga wafat di salib. Tuhan memberkati kita semua. SSDK



Posting Komentar

2 Komentar

Tinggalkanlah jejak dengan berkomentar, maka saya akan berkunjung balik.
Jangan lupa difollow ya.
Terima kasih, berkah dalem. GBU