Momen Paskah ini saya selalu kembali diingatkan berapa besarnya kasih Allah pada kita manusia, karena kasih-Nya saja yang membuat Dia merelakan roh-Nya menjelma menjadi manusia, serupa dengan kita, bahkan berkorban sengsara, wafat di kayu salib, dihukum atas kesalahan yang tidak pernah Dia perbuat.
Penyaliban adalah hukuman yang paling hina kala itu. Seorang penjahat kriminal yang bersalah dihukum dengan cara itu, tapi Dia tidak bersalah apa² harus dihukum demikian, namun Dia tidak melawan.
Dia hanya berkata:
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23: 34)
Pada postingan kali ini saya baru mengetahui sesuatu hal, yang memastikan kembali bahwa hukuman salib itu adalah hukuman yang sangat hina. Dan Yesus Kristus kita harus menanggung itu semua dan itu sangatlah tidak layak, tapi Dia melakukannya. Sehingga hal ini harusnya membuat kita sadar akan kedosaan diri kita ketika kita tahu karena dosa² kitalah Dia menebus kita dengan darah dan salib yang hina itu.
Orang Kristen mayoritas mungkin hanya tahu bahwa Yesus disalib dengan hanya menggunakan cawat, digantung tanpa busana, 'ditelanjangi' dan sangat dihinakan. Dia digantung di salib diantara dua penjahat, namun Yesus tidak bersalah.
Tapi sebenarnya apa yang terjadi sungguh lebih hina dari itu, Yesus disalibkan dengan tubuh yang benar² telanjang. Itu realitas sejarah yang tidak semua orang Kristen tahu. Meski masih menjadi perdebatan namun ada yang mengatakan demikian bahwa Yesus disalibkan sebenarnya polos telanjang bulat. Itu kenapa salib adalah hukuman mati yang paling hina.
Memang hal ini hanya untuk dibahas dikalangan internal bukan soal ketelanjangannya tapi lebih ke esensi nya, bahwa salib itu hukuman paling hina.
Bagi orang Yunani, Romawi, ketelanjangan bukan suatu hal yang tahu, bahkan dewa-dewi mereka pun digambarkan dengan sosok ketelanjangan. Tapi lain cerita bagi orang Yahudi, ketelanjangan adalah sebuah penghinaan yang paling hina.
Saya coba mencari tahu soal ini, apakah seperti demikian?
Berdasarkan catatan sejarah Romawi dan catatan Injil, Yesus disalibkan dalam keadaan telanjang. Bukan menggunakan helai pakaian (baca: cawat). Karena Romawi menggunakan hal ini (penelanjangan) adalah bentuk penghinaan yang disengaja dari eksekutor Romawi.
Penyaliban bertujuan untuk mempermalukan terhukum, sehingga penelanjangan adalah salah satu cara untuk merealisasikan hal tersebut (baca: mempermalukan).
Penggunaan penutup berupa kain atau benda lain pada saat penyaliban adalah suatu yang terlarang.
Pada masa itu pakaian dalam orang Yahudi berbeda dengan pakaian dalam yang dikenakan kita saat ini. Dimana pakaian dalam mereka bisa dikenakan beraktivitas di luar tanpa perlu ada pakaian luar yang menutupi. Misalnya ketika beraktivitas di pantai sebagai nelayan, tengah melaut atau tengah membersihkan kala, memperbaiki jala dll.
Catatan sejarah lain yang membuktikan Yesus disalibkan dalam keadaan 100% telanjang adalah dari sebuah amulet batu darah yang ditemukan pada akhir abad ke-2 atau awal abad ke-3. Amulet ini sering disebut 'permata pereire'. Di gambaran amulet ini digambarkan seorang pria berjanggut dengan kondisi telanjang bulat di atas salib. Dikelilingi tulisan "Putera, Bapa, Yesus Kristus". Penggambaran ini jadi yang paling awal dari penggambaran tentang Kristus yang disalibkan.
Ada pula catatan dari bapa Gereja pada abad ke-2, yaitu Melito dari Sardis, beliau adalah seorang Uskup pada masa itu di wilayah Sardis yang saat ini merupakan wilayah Turki. Dalam tulisannya itu dituliskan demikian: "Sang Penguasa telah dibuat tidak dapat dikenali karena tubuhnya yang telanjang, dan bahkan tidak diperbolehkan mengenakan pakaian untuk menghalanginya dari pandangan. Itulah sebabnya benda-benda penerang berpaling, dan hari menjadi gelap, sehingga ia dapat menyembunyikan orang yang ditelanjangi di atas pohon."
Catatan sejarah lainnya dari seorang bernama Dionysius dari Halicarnassus, sebuah catatan dari abad ke-1 SM. Dalam catatannya tersebut dicatatkan ada eksekusi seorang budak yang digiring ke tempat eksekusi dalam keadaan telanjang bulat.
Memang dalam catatan tersebut, Dionysius tidak mencatat secara spesifik eksekusi itu dilakukan dalam bentuk hukuman penyaliban. Tapi sebagai 'hukuman seorang budak'.
Ada 2 hal di sini yang bisa diintepretasikan. Pertama soal diksi 'budak', Yesus dijual oleh Yudas seharga beberapa keping perak dan itu adalah harga senilai dengan harga budak. Kedua, pada masa itu praktik penyaliban dimasa Romawi itu selalu dengan 'hukuman' ketelanjangan.
Dalam Injil juga memang ada dikisahkan bahwa pakaian Yesus dilucuti.
Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian — dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. (Yohanes 19: 23)
Penggambaran Yesus yang kita amati dan lihat saat ini dimanapun dalam seni lukisan, film dll. adalah penyesuaian artistik agar lebih sopan, tidak menekankan pada akurasi historis secara nyata. Karena esensinya bukan ke arah itunya.
Penggambaran semacam ini sudah ada sejak jaman Kekristenan mula², hal ini tergambar pada dinding bangunan² gereja (basilika) yang dibangun pada kisaran tahun 422 dan 432 Masehi. Salah satunya di pintu Basilika St. Sabina di Roma, Italia 🇮🇹. Penggambaran penyaliban yang 'soft spoken' ini dianggap wajar dan umum saat itu hingga saat ini.
Selain itu di Basilika Sagrada Familia di Spanyol 🇪🇸, penggambaran Yesus yang tersalib dengan cara telanjang.
Meski begitu ada hal yang masih jadi perdebatan apakah memang demikian (telanjang) atau ada kain penutup yang menutupi bagian sensitif, jadi tidak murni 100% telanjang bulat tapi bisa dikatakan sebagai 'ketelanjangan'. Karena ada pandangan, menutup bagian itu adalah sebagai bentuk sensitivitas terhadap kaum Yahudi kala itu.
Tapi catatan sejarah dan catatan teologis mencatatkan realita bahwa Yesus disalibkan dengan ketelanjangan yang sempurna, sebagai cara untuk mempermalukan manusia secara maksimal.
Meski begitu belum ada kepastian yang 100% bahwa Yesus disalibkan dengan cara telanjang bulat. Namun catatan sejarah dan mencocokannya dengan situasi pada masa itu memang ada kemungkinan ke arah sana (penyaliban dengan cara paling hina, yaitu ketelanjangan).
Tapi hal terpenting dari semuanya adalah bukan soal telanjang atau tidak, namun pada kepastian bahwa Yesus telah sengsara dan wafat di salib bagi kita semua, Dia telah berkorban untuk mengembalikan hubungan kita manusia dengan Allah, mendekatkan diri kepada manusia, menjadikan relasi yang dekat antara manusia dengan Allah, sebagai Bapa dan anak.
Semoga peristiwa Jumat Agung, sengsara dan wafat Yesus Kristus ini bisa menjadi refleksi iman, membuat kita makin kuat dalam iman dan makin yakin dan percaya, kita semua ini telah tertebus oleh kasih Allah. Jika masih hidup dalam dosa segeralah berpaling, karena Dia yang menebus kita telah mempertaruhkan segalanya, jangan pernah sia-siakan penebusan-Nya dalam hidup kita masing-masing. Dia yang telah memilih kita, bukan kita yang memilih-Nya.
Selamat beribadah Jumat Agung di gereja masing-masing. Tuhan memberkati kita semuanya. -cpr
#onedayonepost
#informasi
#katekese
#hukumansalib
#telanjang
.jpeg)
0 Komentar
Tinggalkanlah jejak dengan berkomentar, maka saya akan berkunjung balik.
Jangan lupa difollow ya.
Terima kasih, berkah dalem. GBU