Asal-usul Rabu Abu dalam Tradisi Katolik

Kali ini saya mau bahas momen seputar Rabu Abu, sebagai penanda awal masa pra-paskah bagi umat Katolik Roma. 

Sekedar informasi, Gereja Timur (Gereja Ortodoks) atau bahkan Gereja Katolik Timur yang berkomunikasi dengan Tahta Suci tidak merayakan Rabu Abu sebagai tanda dimulainya masa Pra-Paskah. Melainkan mereka memulai masa itu lebih awal, yaitu pada hari Senin. Mereka menyebutnya sebagai Senin Bersih atau Clean Monday. 

Dalam tradisi Timur, hari Sabtu dan Minggu tetap termasuk dalam perhitungan puasa, meski aturannya lebih ringan. Sedangkan Katolik Roma, menganggap Minggu adalah hari kemenangan Kristus jadi tidak ada puasa pada hari itu. 

Bagi Kristen denominasi ini pada Senin Bersih lebih ditekankan pada doa panjang (misalnya Doa Santo Efrem), banyak sujud/prostrasi dan puasa yang lebih ketat secara makanan. 

Gereja Kristen denominasi lain (baca: Protestan) ada yang melakukan tradisi ini (Rabu Abu) dan ada yang tidak, namun secara rata² umumnya tidak melakukan tradisi ini, karena dianggap tidak alkitabiah. 

Lalu apakah memang seperti itu? 


Pada postingan kali ini saya akan membahas hal tersebut. Meskipun saya kini bukan seorang Katolik lagi, tapi saya memahami hal yang benar sesuai sejarah, jadi saya coba menyampaikan ini sebagai informasi sejarah asal-usul, karena kita harus memahami baik sejarah gereja, sebab musababnya, supaya paham dan bisa menjawab tantangan jaman seputar religiusitas. 

Mari kita mulai pembahasannya. 

Rabu Abu saat ini selalu jadi penanda dimulainya masa Pra-Paskah, masa persiapan ziarah batin umat Kristen, merasakan masa sengsara hingga wafat Yesus Kristus, hingga akhirnya Dia menang atas maut. 

Pada momen ini umat diajak untuk bermati raga dan melawan segala godaan hawa nafsu, melawan diri sendiri atas keinginan² daging yang menyesatkan, agar bisa hidup benar seturut kehendak Allah. 


Penggunaan abu sudah dilakukan sejak tradisi Yahudi kuno, dimana abu digunakan sebagai lambang pertobatan,  seperti duduk dalam abu, menaburkan abu di kepala, hingga memakai kain kabung. 

Awalnya penentuan masa Pra-Paskah dihitung 46 hari, namun hari Minggu tidak dihitung sebagai masa puasa, sehingga jatuhnya itu pada hari Rabu, mengawali sebagai awal masa Pra-Paskah itu. Abad ke-6 tradisi ini sudah ada. 

Pada perkembangan awal gereja perdana, abad² awal, ketika ada orang Kristen kala itu yang melakulan dosa berat akan menjalani masa tobat publik, dengan cara mengenakan pakaian pertobatan dan ditaburi abu sebagai tanda penyesalan. 

Baru pada sekitar abad ke-10, Gereja Roma menetapkan bahwa pemberian abu kepada semua, tidak saja pada yang mengalami dosa berat. Dimana abu itu dibuat dari daun palma kering yang digunakan pada Perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. 

Pada Konsili Benevento (1091) yaitu pada saat kepemimpinan Paus Urbanus II diputuskan praktik pemberian abu kepada semua umat ditegaskan secara resmi dalam Gereja Roma (Katolik Roma), dan Rabu Abu menjadi bagian tetap kalender liturgi Katolik. 


Catatan mengenai tradisi Rabu Abu atau konteks sejenis mengenai pertobatan ini bisa dilihat pada catatan² sejarah, seperti:
📜 Tertulian pada abad ke-2 s/d ke-3, menyebut praktik tobat dengan kain kabung dan abu.

📜 Santo Hieronimus pada abad ke-4, juga merujuk pada abu sebagai simbol pertobatan.

📜 Pada buku liturgi Sacramentarium Gregorianum, pada abad ke-8, dimana buku ini berisi doa-doa untuk hari awal Prapaskah yang jatuh pada hari Rabu.

Itulah kira² informasi seputar asal-usul Rabu Abu menurut tradisi Gereja Katolik Roma. 

Belakangan denominasi Protestan banyak yang memasukan prosesi Rabu Abu pada tata cara ibadah mereka dalam mengawali masa Pra-Paskah, padahal sewaktu awal² mereka sangat menentang hal² atau tradisi yang tidak ada sumbernya dari Alkitab. Tapi kini mereka mengikutinya dengan dasar yang akhirnya mereka legalkan. 

Sebenarnya tidak masalah mau mengikuti atau tidak, tapi dengan mereka mengikutinya, itu adalah tanda bahwa Gereja Katolik memang telah menetapkan pondasi yang mapan dalam hal aktivitas liturgi yang telah dilakukan sejak mula-mula, justru jauh sebelum Protestanisme itu muncul. 

Harusnya ini yang perlu disadari, bukan justru malah kontra dan menyalah-nyalahkan Gereja yang mula-mula, justru yang datang belakangan harusnya berterima kasih, meskipun pada akhirnya setelah abad ke-16 ada pandangan lain yang melihat bagaimana keselamatan itu diterima oleh penganutnya, tapi tidak boleh lupa sejarah Gereja itu berasal, sejarah bagaimana Alkitab jadi seperti yang saat ini, menjadi pedoman utama di atas segala-gala. 

Pola pikir ini jelas berbeda, tapi saya pribadi memahami bahwa sejarah gereja dimulai sejak awal mula, bukan baru setelah abad ke-16, jadi runtutan sejarah lebih saya pahami, meskipun setelahnya saya menganut keyakinan yang baru, tapi saya tidak akan melupakan bagaimana gereja berdiri hingga saat ini. 

Segitu saja share seputar Rabu Abu. Untuk teman² yang berpuasa dan berpantang, selamat merayakannya ya. Mari kita isi masa Pra-Paskah ini dengan mengekang keinginan² daging yang membuat kita jauh dari Tuhan. Amin. -cpr

#onedayonepost
#sejarah
#informasi
#katekese
#rabuabu

Posting Komentar

0 Komentar